Gerempang Seberang Jembatan Kuning
Ditulis oleh: Haneeza Tepat sebelum jalan terbelah tiang penunjuk arah ke pusat kota yang dikelilingi rumput pendek, tampak jembatan layang yang aram temaram. Garis-garis berwarna golden lily di kedua tepinya jadi penanda bahwa pejalan kaki dapat membabat langkahnya hingga ujung lewat sana. Lampu kendaraan menyoroti jalan beraspal yang diselimuti debu-debu hasil kealpaan orang kota. Dari sepasang mata beriris cokelat muda, bulan malam ini wujudnya hampir sempurna. Sayang, ia sepertinya enggan menyapa insan yang melenggak dengan burakah di atas bumi. Gumpal-gumpal awan di langit kompak menyembunyikan eloknya. Keringat merabas dari kening dan lehernya, ia memutar bola matanya. Belakangan matahari tak dapat disalahkan sebab malam pun rasanya bagai tuarang. Angin sejuk tak sering mampir untuk mencolek punggung lehernya. Ia harus bertempur dengan rasa kecut hati karena alat perekam berkaki tiga di hadapannya tak mau menyala. Kartu pers yang bergelantungan di depan dadanya acapka...