Gerempang Seberang Jembatan Kuning
Ditulis oleh: Haneeza
Tepat sebelum jalan terbelah tiang penunjuk arah ke pusat kota yang dikelilingi rumput pendek, tampak jembatan layang yang aram temaram. Garis-garis berwarna golden lily di kedua tepinya jadi penanda bahwa pejalan kaki dapat membabat langkahnya hingga ujung lewat sana. Lampu kendaraan menyoroti jalan beraspal yang diselimuti debu-debu hasil kealpaan orang kota.
Dari sepasang mata beriris cokelat muda, bulan malam ini wujudnya hampir sempurna. Sayang, ia sepertinya enggan menyapa insan yang melenggak dengan burakah di atas bumi. Gumpal-gumpal awan di langit kompak menyembunyikan eloknya.
Keringat merabas dari kening dan lehernya, ia memutar bola matanya. Belakangan matahari tak dapat disalahkan sebab malam pun rasanya bagai tuarang. Angin sejuk tak sering mampir untuk mencolek punggung lehernya.
Ia harus bertempur dengan rasa kecut hati karena alat perekam berkaki tiga di hadapannya tak mau menyala. Kartu pers yang bergelantungan di depan dadanya acapkali mengetuk layar kamera video bernilai puluhan juta itu. Nama ‘Yusan’ sudah agak pudar di bagian bawah foto pada benda tipis berbentuk persegi panjang itu.
Bagian lengan kemeja berwarna hitamnya ia tarik hingga sesiku. Garis merah muda agak timbul sepanjang pergelangan tangan hingga hampir siku terpajan begitu saja. Itu sisa luka bakar yang tercipta beberapa tahun silam.
Perempuan berambut ikal sebahu itu mendaratkan bokongnya di atas paving sambil membebaskan tawanan udara yang sempat tertahan di tenggorokan. Ia menarik karet tipis bekas nasi bungkus tadi pagi dari saku celananya. Kemudian, ia memutar karet itu di rambutnya hingga terikat kencang. Yusan menjatuhkan tubuhnya ke belakang hingga punggungnya tertahan oleh tembok pembatas yang memisahkan jalan layang dari sungai di bawah sana.
Sambil berselonjor, pandangan matanya mengikuti tiap kendaraan yang lewat hingga tiba-tiba ia menatap lurus ke seberang. Di sisi lain jembatan, ia melihat seorang perempuan dengan wajah mirip orang Aceh—baginya. Rambut hitam kumbangnya yang tipis itu digerai. Tulang hidungnya yang tinggi menjembatani kedua mata yang tajam.
Tanpa bermaksud lancang, wartawan yang sedang menikmati waktu istirahatnya itu meneguk ludahnya kagum. Bagaimana bisa bidadari hinggap di kota dursila ini? Ia curiga sayapnya patah atau dicuri laki-laki pengangguran yang suka jajan dari dompet orang. Badannya tinggi semampai. Kedua lengannya yang kurus diakhiri dengan jemari lentik.
Yusan terperanjat saat menangkap perempuan itu melangkah gontai ke arahnya. Bukan karena merasa tertangkap basah. Melainkan karena mobil dan motor yang tak henti melaju, hampir meniup tubuh bak model itu.
Tanpa mengindahkan kameranya yang nyaris tumbang saat ia buru-buru berdiri, wartawan berdarah Papua itu tunggang langgang berusaha menggapai Sang Bidadari. Telapak tangan kanannya ia perlihatkan ke arah datangnya kendaraan. Tangan kirinya menyabet tangan perempuan yang terlihat linglung itu, dibawanya ke tempat singgah yang lebih dahulu mendarat di jembatan.
Dadanya naik turun, butir-butir keringat bersulih jadi air terjun yang berselancar di lehernya. Mulutnya terbuka, napasnya menderu. Yusan merapikan helai rambut yang ramai bergelantungan secara acak menghalangi penglihatannya. Berkacak pinggang, dahinya bergelombang.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Si Wartawan.
Sebelum tiba di sini, pertanyaan yang lolos dari mulutnya berisi asam pahit politik saja. Ini pertama kalinya ia memulai percakapan sungguhan tanpa ditunggangi perkara cari makan. Baru mau senang, hatinya malah seperti dilubangi dengan tombak. Melemparkan tatapan datar yang tak memantulkan cahaya dari mata sayu itu, Si Bidadari diam seribu bahasa.
“Nama kau siapa?” pertanyaan kedua berhasil dilempar tepat di muka.
Dalam senyap, Yusan mencoba bergerilya ke dalam isi kepala perempuan di hadapannya. Tidak benar-benar fokus, ia menjelajahi pahatan Tuhan yang bernyawa; yang sedemikian sempurnanya. Bawah matanya gelap, terlihat agak basah. Maskaranya berantakan, hitamnya menyebar ke sudut terluar dan turun ke bawah.
“Kalau butuh waktu sendiri, setidaknya bica—”
“Aku ingin mati.”
Meremang bulu tengkuknya. Kata-kata itu sejak lama ia buang ke laut, ke udara, ke mana saja asal tak ada di benaknya apalagi di ujung lidahnya.
“Siapa yang sakiti kau?” tanya Yusan selembut terpaan angin malam.
“Aku. Aku yang sakiti diri sendiri.” jawab perempuan itu.
Hampir lengah, Si Wartawan baru menyadari bahwa ada bercak merah keunguan di dekat tulang selangka bidadarinya. Tak hanya satu. Ada yang agak pudar, ada yang masih sangat jelas.
Yusan lantas menyejajarkan jari telunjuknya yang agak bengkok karena pernah patah dengan bercak yang ia lihat, “Itu.. kau juga yang buat?”
“Bukan aku. Bibirku tak sampai,” ujar yang ditanya sambil tertawa lirih.
Oh, Tuhan, senyumnya terlampau manis. Melengkung dari pipi kanan ke pipi kiri. Lesung pipi samar-samar. Tulang pipinya menarik garis-garis elok di wajah itu. Si Bidadari tersenyum seolah-olah itu bisa menutupi sudut-sudut bengkak yang mengganggu parasnya.
Perempuan itu menganjurkan tangannya, “Tadi kau tanya namaku, kan? Aku Kemuning. Kau?”
Pembuluh darah di pipi lawan bicaranya melebar. Masih terkejut dengan perubahan sikap perempuan bernama Kemuning itu. Beberapa menit yang lalu, ia seperti ingin menarik rambut Yusan. Kini, ia seakan menghidupkan perapian di dalam rumah kayu di tengah musim dingin.
“Aku Yusan, ini..” jawabnya sambil mengangkat kartu pers.
Kemuning menghapus cairan hitam yang mengering pada kedua pipinya dengan punggung tangan yang tulang-tulangnya timbul itu. Matanya membulat sempurna, pupilnya membesar. Tangannya merampas kartu pers itu, tak sampai lepas dari talinya.
“Kau wartawan? Sedang apa wartawan di sini? Tak ada pejabat yang buang air seni sembarangan di tepi jembatan, Yus.”
Antara memang ceplas-ceplos atau sarkas, yang pasti Yusan dibuat mematung dengan gerak-geriknya.
Tengkuknya ia garuk pelan. Pandangannya ia lempar ke samping, “Aku wartawan militan. Ke sini hanya ingin merekam suasana jembatan saja. Aku suka membuat dokumenter jika sedang tak ada pekerjaan dari kantor.”
Takjub dengan jawaban Si Wartawan, perempuan yang hanya mengenakan kutang berwarna putih itu memajukan wajahnya sambil mencampakkan kartu yang ia pegang daritadi.
“Ceritakan pekerjaanmu!” pekiknya bak anak kecil yang diberi buah tangan oleh ayah sepulang berlayar.
Yusan menggelengkan kepalanya, “Aku akan cerita setelah kau memberitahuku. Mengapa seseorang sepertimu berkeliaran di sini? Bukankah tengik dari bawah terbawa angin sampai ke atas? Apa bagusnya? Bahkan tadi kau menyeberang dengan sembrono.”
Lengkungan di bibirnya sirna seketika.
“Tempat untuk orang sepertiku memang di tempat seperti ini. Bau, kotor, berdebu. Bukankah begitu?” tanya Kemuning sambil mengistirahatkan siku kirinya di tembok jembatan.
“Kau ayu, Ning. Tempatmu di gedung pencakar langit yang karpetnya berwarna merah, yang pendingin ruangannya belasan tiap lantai, yang isinya orang-orang kelas atas.” balas Yusan sambil melipat kedua tangannya di bagian atas tembok yang setinggi dadanya. Dagunya ia taruh di lengan paling atas.
Bidadari di sebelahnya langsung terbahak-bahak. Memiringkan kepalanya, mencari kedua mata Si Wartawan. Kemudian, ia merogoh saku celana jengki biru mudanya. Dikeluarkannya tiga benda yang agak pipih berbungkus persegi, warna-warni.
Yusan melongo sambil bergeser menjauh.
“Tuh, kan. Kau saja langsung menjauh. Aku cocok di sini. Aku kotor. Aku menjijikan.” ujar Kemuning sambil tersenyum lebar, kedua matanya menyipit.
“Aku ini perempuan hina, Yus. Tak akan pernah diterima oleh siapapun, termasuk orang-orang menengah ke atas sepertimu. Tapi kalau tak begini, aku tak merasa hidup, aku tak akan bisa melupa—”
“Bukan apa-apa.”
Ia tertunduk setelah tak melanjutkan kalimatnya.
Perempuan yang tadi menjauh, kembali merapat. Benda-benda tadi dikumpulkannya, ditaruhnya di telapak tangan kiri. Tubuhnya ia mundurkan sedikit. Lalu, ketiganya ia hempaskan ke sungai di bawah sana. Empunya tak terkejut sama sekali.
“Kalau begitu tak usah kembali ke dunia itu, Ning. Kau bisa bekerja denganku. Kita bisa ciptakan dokumenter-dokumenter indah yang menyenangkan hati orang banyak,” ujarnya dengan tedas.
Kemuning melemparkan sorot mata itu lagi.
“Sekarang juga begitu. Semalam aku bertemu dengan laki-laki dari salah satu gedung pencakar langit itu. Aku menyenangkannya. Bahkan, Yus, ia mengabadikan tiap inci kulitku tanpa izin saking senangnya. Mungkin, Yus, nanti dokumenter murahnya itu dipertontonkan ke konco-konconya. Mereka semua senang karena aku. Apa bedanya dengan dokumenter yang kau tawarkan?”
Nelangsa menikam Si Wartawan. Lututnya lemas. Kepalanya panas.
Selama berkarir, ia memperjuangkan para perempuan di tanah kelahirannya hingga terbang ke negara orang untuk menyuarakan keresahannya. Entah sudah berapa jiwa yang ia tarik dari kegelapan. Kemudian perempuan di hadapannya ini, ah, terlalu sumarah.
“Ning.”
“Jika boleh tahu, mengapa tadi tak kau tuntaskan kata-katamu?”
Si Bidadari menidurkan kedua telapak tangannya di bagian atas tembok, ia menekuk kedua lengannya. Mengambil langkah mundur hingga posisinya condong ke depan. Kemudian, dengan lompatan kecil, kaki kirinya ia sangkutkan ke sisi luar tembok.
“Ning! Nanti kau jatuh!”
Kedua tangan Yusan mencengkram betis kanan Kemuning, “Kau ingin mati?”
Kemuning memberi tepukan pada bahu ‘teman’ barunya itu, “Bukankah tadi aku bilang begitu, Yus?”
Kedua kakinya bergelayut menghina Si Wartawan yang bibirnya sudah berubah pucat pasi.
“Kau sudah menikah, Yus? Atau belum? Atau sudah kawin tapi belum menikah?”
“Belum keduanya.”
Kemuning mengangguk-angguk sambil mengedarkan pandangannya ke jalanan yang sudah mulai tak banyak dilewati roda empat atau roda dua.
“Aku sudah begini sejak dulu, Yus. Aku harus menginjak pecahan kaca dari gelas yang dijatuhkan orang lain, menciptakan luka, mengeluarkan darah. Pada akhirnya, aku juga yang harus menjilat itu semua. Ya, setidaknya semuanya membaik ketika Mas Rais datang.”
“Siapa itu Mas Rais?”
“Suamiku, Yus. Hidupku. Hatiku. Pikiranku. Penghapus dosaku. Semuanya ada di dia.”
“Lalu?”
“Mas Rais hilang saat ia ditugaskan ke Aceh. Terakhir aku mendengar suara lembutnya itu saat kami berbicara lewat telepon umum lima tahun lalu. Malam itu hujan renyai, aku baru pulang dari rumah mertuaku. Entah mengapa, aku merasa saat itu ia tak sendiri, Yus. Aku curiga. Tak ada semangat yang terkandung dalam suaranya.”
“Apa yang ia katakan padamu terakhir kali?” tanya Yusan dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya.
“Kata Mas Rais, aku tak boleh kembali lagi seperti dulu. Tak boleh jahati diri sendiri. Kata Mas Rais, kalau ia tak pulang, jangan dicari. Kata Mas Rais, tubuhnya tak akan terbang ke kota ini lagi. Kata Mas Rais, jangan jatuh cinta lagi. Kalau selira kami tak bertemu lagi, biar nanti saja saat atma kami melayang di langit.”
Kemuning turun dari atas tembok, punggungnya merosot, ia duduk sambil memeluk kedua lututnya. Yusan menirunya.
“Aku pengkhianat, Yus. Perempuan biadab!”
Ah, Kemuning, pipimu basah lagi..
Yusan menurunkan lengan kemejanya hingga setelapak tangan. Ia mengusaki air mata di pipi perempuan malang itu.
“Kenapa kau kembali ke dunia itu? Bukankah kau mencintai Mas Raismu itu, Ning?”
Yang ditanya enggan menyusun kata. Ia menggelengkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Kedua tangan Yusan menyapa permukaan wajah Kemuning yang kasar dan agak lengket, “Kalau kau cinta dengan Mas Rais, mengapa kembali?”
Ah, Kemuning, tatapan itu lagi..
“Aku kehilangan diriku saat ia menghilang dari hidupku, Yus. Ia tak memasang harga padaku. Katanya aku bukan benda yang bisa dijual. Sudah berapa tahun aku tak mendengar suaranya? Bertahun-tahun, Yus. Aku lupa suaranya. Aku rindu betapa hati-hatinya ia menyentuhku.”
Ia berhenti sebentar. Beberapa detik kemudian, ia terbahak-bahak.
“Sekarang dia sudah tak ada, Yus. Aku sudah tak ada artinya. Harga diriku lenyap dibawanya. Biarlah aku tenggelam di kehidupan tak cerlang ini. Aku adalah yang terbuang, Yus,” ujar Kemuning.
Yusan mengeluarkan bagian kemeja yang tersisip rapih ke dalam celananya. Ia mengarahkan ibu jari dan jari telunjuknya untuk melepaskan empat kancing terbawah. Ia menyibak kemejanya hingga tubuh bagian kanannya terlihat, tepatnya hingga tulang rusuknya yang menonjol terpampang.
Namun, yang jadi perhatian Kemuning bukanlah tulang rusuk ataupun kulit sawo matang itu. Bekas jahitan yang sudah hampir pudar terbentang dari tulang rusuk bagian kanan atas, dekat dada, hingga pinggang ke bawah.
Kemuning menjelajahi garis itu dengan jari telunjuknya, “Ini bekas apa?”
Kemeja Yusan kembali diturunkan, ia menyelipkannya kembali ke dalam celana dengan asal.
“Dulu aku pernah memiliki kekasih, Ning. Ia bekerja di lembaga penegak hukum. Waktu itu, ada unjuk rasa di dekat gedung salah satu lembaga tinggi negara. Aku masih mahasiswa, tubuhku kurus pula, tapi suaraku paling nyaring tanpa pengeras suara. Saat itu beberapa intel menyamar jadi mahasiswa. Lalu, seorang laki-laki yang kuyakini intel ini menyulut api dengan mengajak kawan-kawannya melempar batu dan apapun benda keras di sekitarnya ke arah para anggota kepolisian yang berjaga di garis depan. Jelas ini menimbulkan salah paham dan akhirnya, ya, ricuh.”
Mata Kemuning membulat sempurna, “Lalu, apa hubungannya? Bagaimana kau dan dia bertemu, Yus?”
Plong hatinya mengetahui bahwa ia berhasil meredakan kesuraman Kemuning.
“Saat aku hendak menepi, ada yang melibas kepalaku dari belakang dengan benda tumpul, entah apa itu. Aku tersungkur hingga kaki kiriku tercelus ke selokan, hitam semua hingga lutut. Sedangkan, tangan kananku menahan beban tubuh. Kepalaku seperti berputar-putar, panas, telingaku berdenging. Tak ada ampun, gas air mata mendarat tak jauh dari tempatku. Kala itu aku hanya berharap agar ada kawan mahasiswa yang menolongku. Takdir berkata sebaliknya, Ning. Mantan kekasihku yang menyelamatkanku, mengorbankan karirnya yang baru ia pupuk itu.”
Dahi Kemuning berkerut, “Luka tadi kau dapatkan dari mana? Sejauh ini tak ada dalam cerita.”
Yusan tersenyum sambil merangkak untuk mengemasi Si Kaki Tiga, sekaligus ‘matanya’.
“Pokoknya, setelah kejadian itu, aku menemaninya hingga ia naik pangkat. Tak lama setelah aku kerja sebagai wartawan di media cetak, kami bertunangan. Tapi, kurasa cinta saja tak cukup baginya dan aku tak pernah menyalahkannya. Bang Erwin meninggalkanku untuk menikah dengan anak tunggal perwira tinggi. Pernah kutahan, tapi ia malah siksa aku. Kau sudah lihat bekasnya tadi, toh.”
“Setan! Bagaimana dengan kau? Bagaimana dengan keluargamu?!”
“Bapak dan ibuku orangnya derana, Ning. Turun ke anaknya, ke aku. Kalau ada masalah, ya, kami anggap itu datang dari Tuhan. Ada saatnya harus dilepaskan agar tidak timbulkan kebencian, apalagi dendam.”
“Kau masih cinta?”
“Dengan suami orang? Omong kosong. Lagi pula, cinta hanya membuatku cengeng. Lepas dari itu semua, pikiranku lebih ringan. Tak perlu korbankan apapun untuk orang yang belum tentu bisa berkorban untuk aku.”
Kemuning tak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Teman barunya itu kelewat tenang. Mungkin, jika situasi itu menimpanya, ia sudah terjun ke sungai di bawah sana.
“Kita lucu, Ning.”
“Apanya yang lucu?”
“Aku mati-matian kerja keras supaya bisa hidup di atas kakiku sendiri setelah ditinggal laki-laki yang bahkan tidak tulus mencintaiku. Sedangkan, kau kerja keras untuk mati supaya bisa melupakan orang yang tulus mencintaimu.”
Si Bidadari menurunkan tatapannya yang sedari tadi mengunci mata Si Wartawan. Ia tambah merosot. Kaki kanannya ia tekuk agar tidak berbaring di trotoar yang retakannya ditumbuhi rumput kecil-kecil. Yusan mengistirahatkan kepalanya di perut rata milik Kemuning. Tangannya lurus ke atas seakan-akan ia mampu meraba bintang-bintang yang mulai lenyap terhalang awan gelap dan tebal. Meramalkan hujan sepertinya.
“Kemuning,” panggilnya.
“Kenapa?” sahut Kemuning.
Yusan mendorong pelan dagu Kemuning hingga perempuan itu menengadah sempurna.
“Kalau nanti hujan, mau hujan-hujanan atau lari dari sini?”
“Aku mau hujan-hujanan di sini. Aku tak punya tempat tinggal juga.”
Langit mulai bergemuruh, dipamerkannya kilatan-kilatan warna putih kekuningan dan kadang biru. Air mata Zeus menetes di hidung perempuan yang wajahnya menantang angkasa.
“Pulanglah ke tempatku, Ning. Aku hidup sendiri. Tidak. Aku hidup bersama kucingku, namanya Londo,” ujar Yusan sambil memejamkan matanya.
Perut Kemuning bergetar pelan. Rupanya ia tertawa.
“Londo? Majikan jahat. Bisa-bisanya kau namai dia Londo, Yus.”
“Mau tahu alasannya?”
“Apa alasannya?”
“Warnanya putih kekuningan, matanya biru, ia membuatku banting tulang demi memberikannya makanan. Hidupnya enak. Makan, tidur, buang air besar. Nanti aku yang bereskan.”
Hujan menghantam mereka berdua yang tengah tertawa layaknya anak kecil di sisi jembatan. Pakaian mereka menempel dengan kulit mereka yang kuyup.
“Yus, aku ingin cerita lagi. Boleh?” tanya Kemuning sambil menyisir rambutnya ke belakang.
“Boleh.”
Kemuning menarik lembut sisi kepala Yusan, memangkas jarak. Telinga kiri perempuan yang posisinya berbaring itu menjadi hangat. Perut temannya itu berdenyut seirama dengan jantung. Tangan kanan Yusan dibawa pelan menuju permukaan perut Kemuning yang bersembunyi di balik kain penutup diri.
“Beberapa bulan yang lalu, aku bertemu laki-laki. Tampangnya mirip Mas Rais. Bicaranya lembut sekali, Yus. Saat ulang tahunku, aku diajak bertamu ke tempat tinggalnya. Tak jauh dari sini. Kami minum berdua sambil berbicara di sofa mahalnya itu. Lalu..”
Yusan mengernyit, “Lalu?”
“Lalu, aku lupa apa yang terjadi malam itu. Tapi, yang jelas saat aku bangun pukul empat pagi, aku melihat tiga orang laki-laki yang tak kukenal sama sekali sedang tertidur di lantai ruang tamu. Sedangkan, laki-laki yang kukenal tertidur di sofa denganku, aku memunggunginya.”
Merasa ada yang tidak beres dari cerita teman barunya itu, Yusan lantas mengangkat kepalanya. Ia menyangga berat tubuhnya dengan tangan kirinya.
“Pikiranku sempat tercecer. Aku menurunkan selimut tipis berwarna biru laut yang menutupi pinggangku hingga ujung kaki. Detik itu juga air mataku merembes, Yus. Tak bisa kukatakan padamu keadaanku waktu itu. Terlalu hina. Isak tangis bahkan tak meramaikan air mataku. Aku pergi dari sana dan mereka semua masih lelap.”
Jangan bilang..
“Aku hamil, Yus. Entah anak laki-laki yang mana,” ucapnya enteng.
Kembali duduk, Yusan membawa Kemuning ke dalam pelukannya. Hanya ada suara hujan yang tertangkap oleh telinga mereka setelahnya. Kepala perempuan yang habis bercerita tadi hanya tertunduk.
Jangan bilang..
“Kasihan anak ini, Yus. Aku ingin mati supaya ia tak perlu hidup sebagai dosa yang dapat berjalan dan berbicara. Aku tidak sanggup aborsi, itu tidak adil.”
Sebuah mobil melaju tak kenal genangan air di sisi jembatan, mengguyur dua perempuan yang punggungnya terlampau berat. Kotoran melekati kulit-kulit basah itu. Sungai mengamuk seiring derasnya hujan. Airnya berlomba-lomba mencapai daratan.
“Ning, aku tak peduli kau mau anggap aku apa. Tapi aku ingin menjadi temanmu, aku ingin menemanimu melalui ini semua. Apapun yang terjadi, ayo kita janji. Janji jangan tinggalkan satu sama lain dengan sengaja. Jangan mati jika bukan karena Tuhan.”
Bahu Si Bidadari bergetar hebat. Deretan gigi rapihnya beradu. Taringnya terlihat. Matanya terpejam rapat, namun air terus mengalir dari sana.
“Ning, ayo tinggal denganku. Kau punya aku. Tak akan kubiarkan kau sendiri.”
“Ning, ayo kita pulang.”
Dua perempuan itu bangkit dengan berat dua kali lipat. Sepatu mereka menampung sedikit air hingga mereka sesekali menunduk karena melangkah dengan tak nyaman. Ditelan kabut dalam hujan yang mulai reda, mereka meninggalkan remai di jembatan itu.
A heart that's full up like a landfill
A job that slowly kills you
Bruises that won't heal
You look so tired, unhappy
Bring down the government
They don't, they don't speak for us
— . . . —
Botol susu tergeletak di lantai kayu yang dingin. Beberapa boneka tak lagi anteng di rak mereka. Balerina kecil masih berputar sejak beberapa menit yang lalu. Lagu yang tak akan menempuh jarak jauh itu terus mengalun. Wangi peppermint menggelitik penciuman siapapun yang tinggal dalam kamar apartemen bertipe studio itu.
Sofa pendek dan tak empuk berwarna abu-abu itu menjadi singgasana sementara untuk seorang perempuan yang memeluk versi kecil dirinya selama jam tidur siang. Mulutnya terbuka, rambutnya yang makin panjang terurai di lengan sofa. Sedangkan, Si Kecil tengkurap di atas perut perempuan yang membawanya ke dunia.
Angin membanting pintu jendela di dekat dapur yang tidak tertutup rapat. Perempuan yang lebih tua terbangun, menggeser tubuh kecil di atasnya dengan lembut. Selimut berwarna putih bergambar kelinci ia tarik hingga menutupi pinggang Si Kecil.
Ia melangkah agak menyeret sambil mengusap kedua matanya. Rambutnya digelung asal. Tangannya menggapai pintu yang masih bergoyang pelan karena angin yang agak kencang. Ibu jari dan jari telunjuknya menekan benda kecil yang disebut sebagai kuncinya.
Pandangannya mengedar ke sekeliling. Ia menyadari kalau di kamar hanya ada dia dan putri kecil satu-satunya. Ia tak menemukan satu perempuan lain, empunya kamar apartemen. Di atas kulkas yang tingginya tak lebih dari dada perempuan itu tergeletak sebuah kartu. Tangannya meraih kartu itu, itu kartu pers milik perempuan yang ia cari. Yusan.
“Kalau tak pakai kartu pers berarti tugasnya hari ini sedang butuh penyamaran, bukan?”
Ia meneguk ludahnya yang kini menyusuri tenggorokannya yang sebenarnya tak begitu kering. Ia hanya tak yakin dengan apa yang ia yakini saat ini.
“Meski tugasnya berat, biasanya ia tetap pulang, kan? Paling nanti perempuan itu bawakan kami jus buah, seperti biasa.”
Sudah dua kali ia berbicara sendiri.
Enggan membiarkan pikirannya menumpuk, ia segera membawa kartu itu dengannya. Langkahnya sempat terhenti saat melihat anaknya terlelap di ruang tengah. Namun, hatinya memberikan sinyal campuran. Ia perlu mencari temannya itu dan kakinya akan berat jika ia membawa anaknya bersamanya.
Jaket yang tergeletak di dekat pintu dengan kasar ditariknya. Kunci pintu yang sudah mulai rusak itu ia putar dengan cepat hingga menimbulkan suara yang tak enak di telinga. Suara logam saling beradu. Benda persegi panjang itu tak sampai terbuka lebar, tubuhnya yang ramping melewati celahnya dengan mudah.
Hantaman sandal jepit menggema di lorong saking cepatnya ia melangkah. Sekujur tubuhnya dingin. Bulu kuduknya meremang. Telapak tangannya berkeringat. Salah satu pintu elevator yang saling berhadapan di ujung lorong terbuka. Tak mengindahkan kesempitan, ia tetap menenggelamkan dirinya dalam ruang kecil yang dipenuhi delapan orang dewasa.
Di sebelahnya, tiga orang ibu muda tengah berbisik—yang sebenarnya dapat terdengar jelas. Salah satunya memperlihatkan durjanya. Termakan penasaran, Kemuning mendekatkan telinganya.
“Iya, Bu. Kata polisi, mayatnya masih segar!”
“Ditemukan dimana?”
“Dekat jembatan arah pusat kota. Tadi suami saya lewat sana.”
Telinga Kemuning seketika tak mampu menangkap suara apapun. Pandangannya lurus tak berisi. Rahangnya menegang.
Saat pintu baja itu terbuka, ia langsung menyerobot jalan keluar hingga ia dihujani sorakkan dari ibu-ibu di sebelahnya tadi. Orang yang berjalan lawan arah hanya dapat melemparkan tatapan bingung. Sedangkan, kedua kaki perempuan itu tak ada lelahnya berlari ke arah pintu kaca.
Matahari sedang di atas kepala. Tak banyak ojek pangkalan yang terlihat. Jarak dari apartemen ke jembatan yang ia asumsikan sebagai jembatan kuning itu sejauh satu kilometer.
“Persetan!”
Kemuning berlari membelakangi bayangan. Satu tangannya sesekali ia jadikan payung saking teriknya. Matanya merah sekaligus perih terkena keringat.
“Persetan! Persetan!”
— . . . —
Mobil putih bertipe minibus dengan garis merah di kedua sisinya terparkir di ujung jembatan kuning arah pusat kota. Posisinya dekat dengan akses ke bawah jembatan melalui lahan miring. Di belakang mobil itu juga ada mobil yang cukup mengintimidasi. Mobil polisi.
Kartu pers bergelantungan di leher beberapa orang. Kamera yang mirip dengan milik Yusan ada di tangan seorang laki-laki berbaju hitam. Lensanya hancur. Kaki tiganya entah ke mana. Seorang polisi yang lebih tua mondar-mandir di dekat mobil-mobil.
Penuh keberanian, Kemuning menyelak kerumunan itu. Menerobos garis kuning yang menjadi batasan para wartawan di sana. Semua mata tertuju padanya, termasuk polisi tua tadi.
“Kau tidak diizinkan lewat! Kau tak bisa lihat ada garis polisi?” bentak Si Polisi Tua.
Dengan mata berkilat-kilat, yang ditanya menarik kerah seragam polisi itu, “Apa betul di sini ada mayat, Pak?”
“Perempuan atau laki-laki?” tambahnya.
Polisi itu menghempaskan tubuh Kemuning.
“Kau kehilangan keluarga? Atau wartawan? Kalau wartawan, kau mengantre saja dulu di sana!”
“Aku kehilangan saudara, Pak! Perempuan!”
Suaranya melengking. Tangisannya pecah.
Polisi itu terdiam. Matanya bertemu dengan mata laki-laki berbaju hitam yang tadi memegang kamera. Tak lama, mereka mengangguk bergantian.
“Bisa kau ikut ke bawah sana? Barangkali, memang benar saudaramu,” ujar polisi itu.
Tak sabaran, ia mendahului Si Polisi yang berhati-hati menuruni permukaan tanah berbatu yang miring. Alhasil, ia tergelincir setelah menginjak gumpalan tanah yang mengeras. Kemuning melungsur dengan kaki kiri yang banyak membentur kerikil tajam. Matanya tak sekali kelilipan debu yang terangkat dari tanah.
Di bawah sana, sudah banyak tenaga profesional yang bergelut dengan tugasnya masing-masing. Kantong seukuran manusia berwarna jingga terlihat gembung. Si Polisi yang mengikutinya dari belakang hanya menggerakan jari telunjuknya sambil menatap seluruh anak buahnya yang ingin menghalangi Kemuning.
Satu orang laki-laki yang beberapa menit lalu berjongkok di sebelah kantong itu kemudian berdiri. Langkahnya agak terseret, berat sekali nampaknya. Benda menyerupai papan ujian ia titipkan ke rekannya sebelum akhirnya berdiri di hadapan perempuan yang masih mematung.
“Kau mau lihat jenazah itu?” tanyanya, tanpa ekspresi.
Kemuning mengangguk, “Iya, aku ingin melihatnya!”
“Satu catatan, kau harus tetap tenang. Jenazah ini kuyakin tak mangkat karena tenggelam,” ujar laki-laki itu.
Ia berbalik badan, kemudian memberikan isyarat agar Kemuning mengikutinya.
Seketika orang-orang yang menghiraukan keberadaannya di sini langsung menoleh. Ada yang menatap perempuan itu dengan iba. Ada yang menatap perempuan itu hanya karena rupanya menawan. Ada yang menatap perempuan itu karena penasaran.
Kaki yang penuh debu dengan tanah di balik kuku-kukunya itu berhenti segera setelah laki-laki yang mengantarnya berjongkok untuk menurunkan ritsleting yang membungkus apapun atau siapapun di dalam sana. Tak terbuka hingga ujung, hanya sebatas dada. Namun, tubuh laki-laki yang condong ke depan itu menghalangi pandangannya
Kemuning mendorong bahu kiri laki-laki itu hingga ia dapat melihat siapa yang ada di dalam kantong itu. Seperti tenggelam dan mencoba naik ke permukaan, dadanya amat sesak. Ia tak sanggup bernapas bahkan ketika mulutnya terbuka. Kepalanya pening. Telinganya panas.
Ia menjatuhkan lututnya ke tanah. Merangkak buru-buru untuk menyentuh tubuh yang kelewat tenang itu. Wajah perempuan itu pucat dengan bibir yang agak membiru. Ada memar di sudut bibir dan di tulang pipinya. Turun ke leher, turun lagi ke bawahnya, makin sakit hatinya. Tak ada sehelai kain pun yang melindunginya.
Bagai mati rasa, ia hanya dapat menatap lurus tubuh yang tak lagi dapat berbicara dengannya. Kemuning merangkak mundur, kemudian mencakar kedua pahanya yang terhalang pakaian. Polisi Tua tadi berusaha membantunya, namun yang ia dapat hanyalah tangkisan kuat.
“Persetan! Semuanya membawa sial! Sial! Siapa yang menjadikan kau begini, Yusan? Siapa?!”
Ia berteriak sambil mengubrak-abrik tanah dengan kedua tangannya hingga terlempar ke sembarang arah.
“Iblis! Pelakunya iblis! Kenapa kau tak bunuh aku saja? Kenapa harus dia?”
Tangan kanannya mengepal. Diangkatnya tinggi-tinggi, kalakian didaratkannya ke wajah sendiri. Beberapa orang yang melihatnya dari dekat langsung meraih tangannya, sebagian mencoba membuatnya duduk.
“Siapa yang bunuh kau, Yusan? Siapa, Yus?” tanyanya dengan suara pelan yang bergetar.
Untuk pertama kalinya ia berdoa pada Tuhan untuk membuatnya buta, memotong telinganya, mencabut lidahnya. Ia tak memiliki nyali untuk melangkah kembali ke tempat tinggal yang bahkan bukan miliknya.
Seorang perempuan berkerudung menepuk bahunya, “Anda pihak keluarganya?”
Tanpa menoleh, Kemuning menjawab pertanyaan itu.
“Keluarga. Tidak sedarah, tapi keluarga. Namanya Yusan.”
Dari dulu tak pernah ada orang yang menyimak perkataannya dengan serius, selain Yusan. Namun, saat ini setiap kata yang ia ucapkan menjadi hitam di atas putih. Dari dulu tak pernah ada yang mengusap punggungnya dan menenangkan hatinya, selain Yusan. Namun, kali ini Yusan berhasil membuatnya menjadi perhatian banyak orang. Bukan pada pesta pernikahan, namun pada hari kematian.
— . . . —
Malamnya, ia didatangi oleh seorang perempuan berambut pendek dengan mafela merah yang melingkar di lengan kirinya. Perempuan itu memiliki kartu pers yang serupa dengan milik Yusan. Kemeja hitam mereka juga identik.
Sebatang rokok yang ujungnya sudah menjadi bara terselip di bibirnya. Asap mengepul di depan wajahnya, namun itu tak mengganggunya sama sekali. Satu kakinya ia silangkan di atas paha sebelum berdeham.
“Aku Ratih. Kolega Yusan,” katanya.
Kemuning menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
“Aku Kemuning. Ada perlu apa kau datang ke sini?”
Ia memindahkan batang rokok itu dari bibirnya ke dalam gelas plastik berisi air.
“Satu bulan ini kami ditugaskan untuk melakukan investigasi pada kasus pelanggaran HAM. Seharusnya kami hanya berhenti di depan kandang buaya untuk mengambil foto-fotonya, tapi orang gila itu menyelam. Kau paham maksudku?”
“Aku hanya akan mendengarkan jika kau sebut nama pembunuhnya,” ujar Kemuning dengan rahang yang mengeras, serta tubuh condong ke depan.
Ratih tergelak mendengar ucapan perempuan yang selama ini namanya selalu disebut oleh mendiang koleganya.
“Berada di satu ruangan yang sama dengan pembunuhnya saja kau tak akan bisa, Ning. Oh, bukan hanya kau. Kita berdua. Lagi pula, tak mungkin pembunuh yang sesungguhnya sudi mengotori tangannya,” ucap Ratih dengan tatapan berang.
“Tak peduli. Aku hanya ingin balas dendam!” balas Kemuning sambil menggebrak meja yang memisahkan mereka berdua.
“Kau ingin kematiannya sia-sia?”
Hening.
“Kemuning, kau ingin kematian Yusan sia-sia?”
Air mata turun tak tertahan lagi.
“Yusan mati supaya yang ia perjuangkan tetap hidup, Ning. Kau tak paham betapa menderitanya orang-orang yang digusur dari tanahnya sendiri. Kau tak paham pedihnya tangisan anak yang ditinggal ibu dan bapaknya setelah bentrok dengan aparat. Matinya Yusan, Ning, itu bukan kematian yang konyol. Ia berhasil menerbangkan orang-orang pelosok itu ke kota. Berhasil membuat suara mereka didengar orang-orang besar yang kerjanya hanya menjual kata-kata manis. Yusan, Ning, ia membayar itu semua dengan nyawanya sendiri. Jangan pernah kau bertempur hanya karena dendam. Hanya pecundang yang hatinya penuh dendam dan kebencian.”
Ratih beranjak sambil membawa bungkus rokok yang hampir kosong itu bersamanya. Meninggalkan perempuan yang hanya bisa membisu. Kedua pipinya basah sempurna. Ia hampir menerjang lawan yang ia bahkan tak tahu siapa, juga tanpa dasar yang kuat. Ratih menamparnya dengan kepulan asap tadi.
Kedua kaki kecil berlari menghampirinya, ditepuknya paha Kemuning hingga dengan berat ia menoleh. Itu putrinya. Masih memakai piyama, botol susu tertanam di mulutnya. Matanya yang bulat dan berbinar membuat siapapun melunak di hadapannya. Malaikat kecil itu datang untuk menyelamatkan Si Bidadari.
Lantas digendongnya anak itu. Duduklah ia di pangkuan ibunya.
“Ibu ribut sekali, ya, Sya?” tanyanya sambil menyelipkan beberapa helai rambut anaknya ke belakang telinga.
Putrinya menggeleng. Kedua telapak tangannya ia tempelkan di pipi Sang Ibu.
“Isya jaga ibu kalau sudah dewasa, ya. Hidup jahat sekali sama ibu,” ujarnya.
Putrinya hanya mengusap-usap pipi ibunya itu. Tak paham sama sekali. Terlalu rumit untuk ia yang masih perlu menjelajahi dunia lebih luas lagi supaya tahu arti ‘dewasa’ dan ‘jahat’.
Gelas plastik berisi batang rokok yang sudah sependek kelingking serta air di dasarnya yang mulai menghitam seolah-olah merekam semua percakapan tadi. Itu membuat mata Kemuning terus-menerus menatapnya. Ia tak ada nyali untuk membuangnya.
Biasanya pukul sebelas malam saat Isya sudah terlelap, ia dan Yusan akan membuka pintu kamar apartemen. Mereka hanya akan duduk di sana sambil meminum kopi sasetan. Yusan akan memangku Londo sambil menceritakan petualangannya selama menjadi wartawan dan Kemuning akan mendengarkannya sampai terkantuk-kantuk.
Wartawan itu telah memberikannya banyak ilmu. Mulai dari cara menulis artikel sederhana hingga cara menulis buku. Ia tak menyia-nyiakannya. Memang semenjak Kemuning menginjakkan kakinya di apartemen ini, ia terus belajar cara menulis hingga ia merintis sebagai penulis lepas. Itu semua bagaikan mimpi untuk Kemuning. Tapi, Yusan mewujudkan semua yang ia inginkan. Tanpa diketahuinya, Yusan berusaha mati-matian agar ia tak mati.
Yusan mati agar ia hidup.
I'll take a quiet life
A handshake of carbon monoxide
And no alarms and no surprises
No alarms and no surprises
No alarms and no surprises
Silent, silent
This is my final fit
My final bellyache with
No alarms and no surprises..
Comments
Post a Comment